Masakan Tradisional Jepang: Sushi

Masakan Tradisional Jepang: Sushi

Update: 8 Maret 2017

Sushi pada dasarnya beras yang diberi cuka disajikan dengan ikan laut di atasnya, atau campuran keduanya. Sekarang populer di seluruh dunia dan dipandang sebagai makanan khas Jepang. Jenis yang paling umum adalah “Nigiri”, atau sushi yang dilinting dengan tangan, yang merupakan beras digulung menjadi potongan seukuran gigitan, disebut “Shari”, dan ditutup dengan sepotong ikan laut, yang disebut “Neta”. Anda dapat menambahkan sedikit “wasabi” (lobak) dan sedikit shoyu (kecap asin) untuk meningkatkan cita rasa sushi-nya.

Sejarah Sushi

Sejarah Sushi

Sushi mungkin dimulai dengan kebiasaan mengawetkan makanan dengan cara fermentasi ikan mentah yang di-acar dengan garam dan beras, yang disebut dengan "Narezushi". Katanya telah dimulai di jaman Edo (Tokyo tua) pada awal abad ke-19. Pada hari-hari sebelum teknologi pendinginan ada, orang akan mendidihkan dan meng-acar ikan dengan kecap sebagai cara pengawetan. Meskipun makan sushi lintingan diawali untuk melayani masyarakat umum dan dijual murah di warung pinggir jalan, ia telah naik kelas dari waktu ke waktu, dan hari ini Anda bahkan dapat menemukan sushi yang disajikan di restoran kalangan atas khusus dengan harga setinggi langit.

Sushi Lintingan Tangan

Sushi Lintingan Tangan

Ikan merah, seperti tuna atau bonito, disebut “Akami", dan perut lemak dari tuna yang disebut "toro" sangat populer. ikan putih (Shiromi), seperti ikan kakap merah atau kuning, memiliki rasa yang lebih halus. Ikan dengan kulit mengkilap, seperti sarden atau makarel, disebut "hikari-mono" yang secara harfiah diterjemahkan sebagai “benda yang mengkilap”. Bahkan ada cara memasak dengan cuka yang menyembunyikan bau “amis" yang kuat. Selain “Neta” yang biasa, Anda juga mungkin bisa menemukan belut laut atau telur yang digoreng, ini menunjukkan bahwa tidak semua sushi didasarkan pada ikan saja.

Keaneka-ragaman Sushi

Keaneka-ragaman Sushi

Ada beberapa jenis sushi, misalnya, “Maki-zushi” beras berbentuk kerucut dan makanan laut yang dibungkus dalam sepotong rumput laut “nori” yang dilinting tangan, dan “Chirashi-zushi” yaitu lapisan sushi diatas semangkuk nasi bercuka. Kemudian ada “Inari-zushi”, nasi yang dibungkus dalam lapisan tahu tipis yang digoreng, dan rasanya pedas-manis. Dan ada “Oshi-zushi”, dimana bahan-bahan beras dan sushi yang dimasukkan kedalam kotak dan dikeraskan dengan tekanan. Jenis ini sering dibuat di Osaka dan Provinsi Toyama.

Cara Makan Sushi yang Benar

Cara Makan Sushi yang Benar

Pertama, tempatkan sedikit kecap asin kedalam piring kecil, sehingga Anda dapat mencelupkan sushi (bukan nasinya) dengan cepat. Jangan tenggelamkan sushi didalam kecap asin - hanya sedikit saja. Banyak orang bertanya apakah OK untuk makan sushi menggunakan tangan Anda atau Anda harus menggunakan sumpit untuk bersikap sopan. Jawabannya adalah bahwa mengambil sushi dengan tangan Anda bisa diterima, celupkan sushinya sedikit kedalam kecap asin, dan makanlah.
Restoran sushi juga menyajikan irisan tipis jahe yang di-cuka disebut bernama “Gari”, dan secangkir teh hijau. Orang-orang yang benar-benar menikmati sushi sering memulai dengan jenis yang rasanya lebih hambar “Neta” (seperti Shiromi) dan baru jenis yang lebih beraroma ikan. Secara berkala, Anda dapat menggunakan sedikit “Gari” atau teh hijau untuk menyegarkan mulut Anda.

Tempat Dimana Anda Bisa Menikmati Sushi

Tempat Dimana Anda Bisa Menikmati Sushi

Saat ini ada banyak tempat untuk menikmati hidangan sushi. Sebagai contoh, ada restoran sushi yang biasa dimana Anda duduk di konter didepan koki sushi-nya, "conveyor-belt sushi" restoran di mana segala macam piring sushi bergerak diatas sabuk bergerak dan Anda bebas memilih apa pun yang Anda inginkan , dan juga “sushi delivery," di mana Anda memesan sushi dari rumah dan akan diantar langsung ke pintu Anda. Harga diawali dibawah 1.000 yen untuk sushi kemasan yang dijual di toserba dan beberapa ribu yen disebuah restoran sushi, hingga beberapa puluhan ribu yen untuk restoran sushi kelas atas di tempat-tempat seperti di Ginza.

*Informasi pada saat artikel dimuat.

Bagikan artikel ini.