Keragaman Budaya Fesyen Orang Jepang dan Sejarahnya.

Keragaman Budaya Fesyen Orang Jepang dan Sejarahnya.

Update: 16 November 2016

Jika mendengar kata Jepang, mungkin akan terbayang kimono, hakama atau yoroikabuto dalam benak Anda. Atau mungkin akan muncul ingatan tentang baju berwarna-warni seperti "Harajuku girl". Berikut, akan kami perkenalkan budaya fesyen orang Jepang yang kaya akan keragaman tersebut.

Sejarah Pakaian Tradisional Jepang

Sejarah Pakaian Tradisional Jepang

Di masa purba, orang Jepang memakai pakaian sederhana yang terbuat dari kulit binatang hasil buruan. Seiring perkembangan peradaban, Jepang mendapat pengaruh melalui hubungannya dengan negara lain dan mulai menggunakan pakaian yang diproses dari kain. Saat memasuki abad pertengahan, mode Jepang berubah menuju ke mode orisinal Jepang yang bisa dikatakan sebagai prototipe dari kimono. Di kalangan bangsawan, baju berlapis menjadi populer, sehingga lahirlah gaya berbusana indah yang disebut dengan "junihitoe" (kimono dua belas lapis). "Junihitoe" mengekspresikan musim dan pemandangan dengan menyusun warna yang terdapat pada kain. Sedangkan di antara rakyat biasa "Kosode", yang terbuat dari kain linen, dikenal secara luas.

Peralihan ke Pakaian Modern

Peralihan ke Pakaian Modern

Pakaian orang mulai berubah di bawah pengaruh zaman dan perkembangan teknologi. Ketika memasuki era peperangan, pakaian yang dinamis menjadi lebih disukai. Dari sini, kosode mulai dipakai tanpa memandang status maupun jenis kelamin. Ketika budaya asing dari Eropa Barat mulai memberi pengaruh, warna baju pun berubah secara signifikan, mengenakan kosode dengan warna mencolok dan bercorak menjadi populer. Pada masa ini, kain lebar, memanjang dan kaku mulai beralih ke kimono modern yang dililitkan pada tubuh.

Generasi Remaja yang Menikmati Mode

Generasi Remaja yang Menikmati Mode

Selain fesyen remaja yang terlihat pada budaya pop Jepang, Ada begitu banyak jenis fesyen wanita, sehingga remaja Jepang dapat menikmati fesyen favoritnya masih-masing. Banyak juga yang memilih gaya fesyen genderless baik pria maupun wanita, karena tidak begitu banyak perbedaan dalam bentuk tubuh mereka.

Generasi Usia 20-an yang Terjun di Dunia Kerja

Generasi Usia 20-an yang Terjun di Dunia Kerja

Tidak sedikit wanita muda usia 20-an yang mengenakan produk bermerek. Tentu saja fesyen ada bermacam-macam, tetapi ternyata banyak pula dari mereka yang memilih fesyen yang lucu dan manis meskipun mereka sudah bekerja. Di kalangan pria, celana pendek dengan panjang sedikit di atas lutut populer ketika musim panas, sedangkan celana panjang banyak dipakai orang yang ramping. Bisa dikatakan bahwa gaya baju rangkap juga merupakan ciri fesyen yang banyak digunakan oleh pria Jepang.

Generasi Usia 30-an yang Berubah Kehidupan Maupun Pakaiannya

Generasi Usia 30-an yang Berubah Kehidupan Maupun Pakaiannya

Fesyen di usia 30-an menjadi lebih tenang karena perubahan dalam tahap kehidupannya. Wanita lebih memilih untuk terlihat modis dengan menutup bentuk tubuh mereka daripada pakaian yang menonjolkan garis tubuh. Sedangkan pria, banyak yang memilih baju yang menonjolkan kebersihan dengan memakai jaket dan kemeja meskipun di luar jam kerja. Baju yang memberi kesan baik adalah cirinya, meskipun ada juga baju yang memikirkan bentuk tubuh.

Generasi Usia 40-an yang Berada di Persimpangan Jalan

Generasi Usia 40-an yang Berada di Persimpangan Jalan

Di usia 40-an banyak yang kesulitan dalam berpakaian. Usia yang mengalami munculnya perbedaan dalam berpakaian maupun bentuk tubuh. Ketika mencapai usia ini, jumlah orang yang tidak terlalu berkomitmen dalam fesyen meningkat, dan orang yang memakai baju kebesaran mulai menonjol. Jika orang tersebut peka terhadap fesyen, maka ia akan memilih produk populer dan bermerek yang bernuansa lembut. Karena aging care populer di antara pria maupun wanita, banyak ditemui orang dengan pilihan fesyen yang lebih muda dari usia sebenarnya.

Generasi 50-an, Generasi Gelembung

Generasi 50-an, Generasi Gelembung

Memasuki usia yang tenang karena longgar dalam finansial dan waktu. Banyak yang berkomitmen dalam fesyen karena mengalami "gelembung ekonomi" Jepang. Mereka lebih menyukai fesyen yang berkepribadian kuat, seperti baju bercita rasa natural dari bahan organik, atau baju yang merujuk pada fesyen mewah dari Eropa Barat. Akan tetapi, karena ada banyak juga orang yang berpikir "sudah tidak tertarik lagi pada fesyen", maka ada juga orang yang mengenakan baju pilihan dari pasangan mereka.

Tentang Fesyen di Usia 60-an ke Atas

Tentang Fesyen di Usia 60-an ke Atas

"Kerendahan hati" sering disebut sebagai ciri khas orang Jepang. Hal itu lah yang kuat terlihat pada fesyen generasi senior di usia 60-an ke atas. Sedapat mungkin agar tidak terlihat menonjol, mereka cenderung mengenakan paduan warna yang sederhana seperti abu-abu, krem atau coklat. Akan tetapi, jumlah generasi senior yang menikmati fesyen juga meningkat. Saat ini, tidak begitu banyak orang yang mengenakan kimono tradisional jepang, akan tetapi pada generasi senior ada juga yang hidup dengan memakai kimono.

*Informasi pada saat artikel dimuat.

Bagikan artikel ini.