HOME Tokyo dan Sekitarnya Tokyo Stasiun Tokyo 2 Minggu di Jepang: Itinerari Golden Route dengan Mampir ke Alpen Jepang
2 Minggu di Jepang: Itinerari Golden Route dengan Mampir ke Alpen Jepang

2 Minggu di Jepang: Itinerari Golden Route dengan Mampir ke Alpen Jepang

Date published: 7 Oktober 2026

Tokyo, Kyoto, dan Osaka, trio emas Jepang, biasanya memakan porsi terbesar dalam itinerari para pelancong yang baru pertama kali berkunjung. Dengan energi Tokyo yang tak ada habisnya, sejarah seribu tahun Kyoto, dan kuliner Osaka yang lezatnya keterlaluan, wajar saja. Kereta peluru menghubungkan ketiga kota ini, dan masing-masing bisa membuatmu sibuk berminggu-minggu.

Tapi kalau hanya mengikuti Golden Route, kamu akan berdesakan dengan orang-orang yang sama dari penerbanganmu di setiap gerbang kuil. Sementara itu, rumah-rumah pertanian beratap jerami di Shirakawa-go, pabrik sake di Takayama, dan gang-gang rumah teh di Kanazawa jarang masuk rencana dua minggu, kebanyakan karena perjalanan ke sana terlihat seperti jalan memutar yang melelahkan.

Kabar baiknya, itu sama sekali tidak benar.

Takayama dan Kanazawa berada tepat di antara Tokyo dan Kyoto, jadi menyelipkan rute lewat Alpen Jepang dan pedesaan berarti tanpa bolak-balik sama sekali.

Ingin jadi samurai sehari? Distrik Nagamachi di Kanazawa penuh dengan rumah samurai tua. Untuk suasana kota kecil, jalanan saudagar era Edo di Takayama terasa jauh sekali dari hiruk-pikuk Shinjuku. Dan kalau kamu lebih suka menginap semalam bersama para biksu di kuil, Koyasan hanya dua jam dari Osaka, penutup yang sempurna.

Selama lebih dari delapan tahun mengunjungi Jepang, sebagian momen favoritku terjadi jauh dari kota-kota besar.

Berpindah dari satu prefektur ke prefektur lain mungkin terasa mengintimidasi. Berikut rencana lengkap 14 hari, lengkap dengan waktu tempuh setiap rute dan trik mengirim kopermu agar tidak perlu diseret melewati kota-kota pegunungan.

(Artikel ini berisi tautan afiliasi)

Table of Contents
  1. Hari 1–4: Tokyo
  2. Hari 5: Tokyo ke Takayama
  3. Hari 6: Pagi di Takayama, Siang di Shirakawa-go
  4. Hari 7: Kanazawa
  5. Hari 8–11: Kyoto + Nara
  6. Hari 12–13: Osaka, Plus Himeji atau Koyasan
  7. Di Hari 13, pilih salah satu:
  8. Hari 14: Kepulangan
  9. Logistik
  10. Waktu Terbaik untuk Berkunjung
  11. Itinerari Alternatif
  12. Trio Emas Jepang dan Wisata Sampingan yang Memesona

Hari 1–4: Tokyo

(Foto: PIXTA)
(Foto: PIXTA)

Begitu mendarat di Tokyo yang gemerlap neon, kota ini langsung menyerbumu sekaligus: obrolan riuh yang tumpah dari izakaya, papan iklan 3D berisi kucing-kucing lucu yang berebut perhatian, dan lagu balada fals yang menyelinap keluar dari ruang karaoke setiap kali pintu terbuka, kapan pun itu. Tokyo itu kacau luar biasa dan seperti dunia tersendiri.

Tokyo membentang di 23 distrik (masing-masing nyaris seperti kota mini) dan, menurutku, punya kepribadian sebanyak itu pula. Alih-alih zig-zag ke sana kemari selama empat hari dan menghabiskan banyak waktu di kereta, jelajahi satu sisi kota per hari dan sisakan waktu untuk tersesat dengan senang hati. Percayalah, kamu pasti akan tersesat.

Hari 1: Tokyo Tempo Dulu di Sisi Timur

(Foto: PIXTA)
(Foto: PIXTA)

Para fotografer, kalahkan bus wisata ke Kuil Senso-ji di Asakusa dengan tiba sebelum pukul 8 pagi, saat lentera menyala di atas jalan batu yang masih lengang dan pagoda lima lantai menjulang ke langit.

Kalau ingin melihat kuil ini saat paling ramai, datanglah antara pukul 9 sampai 11 pagi. Pada jam itu, kios-kios di Jalan Perbelanjaan Nakamise sudah buka, dan para bapak penjual camilan sibuk menggoreng age-manju yang masih panas mengepul. Lalu mampir ke Kuil Asakusa di sebelahnya dan coba “nirei nihakushu ichirei”: dua kali membungkuk, dua kali bertepuk tangan (kashiwade), lalu satu kali membungkuk lagi.

Dari sana, Yanaka tak jauh, kawasan unik di Tokyo yang sebagian besar selamat dari serangan udara masa perang. Tersesatlah di labirin rumah kayu, kuil mungil, dan segala hal bertema kucing. Akhiri di Ueno dengan berkeliling taman dan menyusuri kios-kios riuh di Pasar Ameyoko, tempat jajan dan belanja wajib dilakukan!

Hari 2: Sisi Barat yang Penuh Neon

(Foto: PIXTA)
(Foto: PIXTA)

Mulailah dengan berjalan santai di hutan lebat sekitar Kuil Meiji, lalu mampir ke Shibuya Scramble di tengah pagi untuk merasakan sensasi menyeberang yang sesungguhnya. Selanjutnya, naik Jalur Keio Inokashira beberapa menit ke Shimokitazawa, ibu kota barang vintage Tokyo yang berantakan tapi menawan, penuh rak barang bekas, toko piringan hitam, dan kedai kopi indie.

Saat senja, tak ada tempat lain yang perlu kamu tuju selain Shinjuku. Selipkan diri ke bar di Golden Gai yang hanya muat enam kursi dan nikmati sate berasap di Omoide Yokocho. Lalu, kalau kamu pernah ingin merasakan langsung Tokyo Drift, ikuti tur kumpul mobil JDM dari Klook yang membawamu dari pusat kota ke Area Parkir Daikoku yang legendaris.

Hari 3: Wisata Sehari ke Luar Kota

(Foto: PIXTA)
(Foto: PIXTA)

Tujuan wisata sehari di luar Tokyo tergantung apa yang kamu cari.

Rindu udara pegunungan? Tukar lampu kota dengan hutan cedar di Nikko, sekitar dua jam ke arah utara. Di sini ada Toshogu, kuil berlapis emas dari abad ke-17. Baca panduan Nikko kami di sini.

Berkunjung di musim panas yang lembap? Kamakura, satu jam ke selatan, adalah tempat warga Tokyo mendinginkan diri. Sewa papan dan tunggangi ombak di Yuigahama, lalu beri hormat pada Buddha Agung perunggu setinggi 11 meter. Baca panduan Kamakura kami di sini.

Berharap melihat Fuji-san? Kemunculannya tidak pernah dijamin, tapi Danau Kawaguchiko adalah pilihan terbaikmu. Sekitar dua jam dari Shinjuku dengan kereta langsung Fuji Excursion. Berangkatlah pagi, sewa sepeda, dan kelilingi danau sambil mampir di kafe-kafe cantik di kota untuk makan. Baca panduan Danau Kawaguchiko kami di sini.

Fuji terkenal pemalu dan cenderung bersembunyi di balik awan menjelang sore, jadi pagi hari adalah waktu emasmu.

Hari 4: Hari Santai untuk Keliling Tanpa Rencana

Biarkan hari keempat kosong. Mungkin cicipi kedai penyangrai kopi di Kiyosumi-Shirakawa dan taman lamanya yang cantik untuk berjalan-jalan, atau berburu oleh-oleh di distrik peralatan dapur Kappabashi. Malamnya, kagumi pemandangan dari Tokyo Skytree atau dari dek observasi gratis di Gedung Pemerintah Metropolitan Tokyo di Shinjuku. Saat cuaca cerah, kamu mungkin bisa melihat Gunung Fuji di cakrawala.

Sebelum tidur, kemas tas untuk tiga malam dan kirim koper besarmu ke hotel di Kyoto lewat meja resepsionis.

Tempat Menginap di Tokyo
Ramah di kantong
UNPLAN Kagurazaka: Hostel berdesain apik dengan kapsul tidur kayu yang nyaman, tiga menit dari Stasiun Kagurazaka dan gang-gang berbatu kerikilnya. Pilihan keren untuk solo traveler, plus bar dan lounge di lantai dasar menyajikan lebih dari 50 jenis koktail.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Kelas menengah
Ryokan Sawanoya (Yanaka): Penginapan keluarga sejak 1949, dengan kamar tatami, futon, serta pemandian pribadi dari kayu cemara hinoki dan tanah liat.
・Pesan langsung
Mewah
Hoshinoya Tokyo (Otemachi): Ryokan mewah sepenuhnya yang tersembunyi di antara gedung pencakar langit, lengkap dengan onsen di lantai teratas.
・Pesan via Agoda
Rekomendasi lainnya
・Tempat Menginap di Tokyo
・Ueno dan Asakusa: 10 Hotel Apartemen Luas untuk Rombongan Besar dan Menginap Lebih Lama
・10 Hotel Apartemen Terbaik untuk Keluarga di Shinjuku demi Liburan Tokyo Bebas Stres

Hari 5: Tokyo ke Takayama

(Foto: PIXTA)
(Foto: PIXTA)

Ucapkan sayonara pada neon dan naik Shinkansen ke Nagoya, lalu pindah ke Hida Limited Express. Perjalanan ini memakan waktu sekitar empat setengah jam. Usahakan dapat kursi di sisi kiri untuk pemandangan indah Sungai Hida yang mengalir melewati ngarai berwarna zamrud. Dan jangan panik saat kereta berjalan mundur; cukup putar kursimu di Gifu.

Tiba di Takayama sore hari, kota pegunungan di kaki Alpen Utara, taruh kopermu, lalu jelajahi Sanmachi Suji, kawasan saudagar era Edo dengan rumah-rumah kayu gelap. Bola cedar (sugidama) menggantung di atas pintu pabrik sake, dan banyak yang menawarkan wisata cicip. Para wisatawan harian menghilang sekitar matahari terbenam, jadi menginaplah di Takayama untuk menikmati cahaya lampu yang melembutkan fasad berkisi-kisi.

Untuk makan malam khas Takayama, pesan daging sapi Hida, dipanggang di tusukan atau ditata di atas sushi. Vegetarian bisa memesan hoba miso yang dipanggang di atas daun magnolia (tanpa daging), atau dango mitarashi yang gurih beraroma asap.

Tempat Menginap di Takayama
Ramah di kantong
Quality Hostel K's House Takayama: Hostel ramah dan seru dekat stasiun, dengan dormitori dan kamar pribadi untuk para pelancong yang menyisihkan uang yen mereka demi daging sapi Hida.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Kelas menengah
Oyado Koto no Yume: Ryokan modern beberapa langkah dari stasiun, dengan paket makan yang fleksibel dan pilihan sarapan ala Barat.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Mewah
Honjin Hiranoya Kachoan: Pemandian hinoki dan kaiseki daging sapi Hida, hanya satu menit jalan kaki dari pasar pagi. Tersedia juga opsi onsen pribadi.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Rekomendasi lainnya
・Menginap di 'hotel around TAKAYAMA, Ascend Hotel Collection™' untuk Pengalaman 'Good Local' Terbaik

Hari 6: Pagi di Takayama, Siang di Shirakawa-go

(Foto: PIXTA)
(Foto: PIXTA)

Pasang alarm, karena kamu wajib mampir ke Pasar Pagi Miyagawa. Mulai pukul 7 pagi (8 pagi saat musim dingin) sampai tengah hari, deretan kios di tepi sungai sepanjang 700 meter menjual camilan gurih, manisan Jepang, dan acar buatan rumah. Beli sarubobo, boneka pembawa keberuntungan Takayama yang tak berwajah; oleh-oleh yang berkesan.

Lalu naik bus 50 menit ke pegunungan menuju Shirakawa-go, desa warisan UNESCO yang indah bak negeri dongeng dengan rumah-rumah pertanian beratap jerami yang curam. Naiklah dulu ke dek observasi Shiroyama untuk panorama klasiknya, karena tutup menjelang sore. Penduduk masih tinggal di rumah-rumah ini, jadi jangan masuk ke halaman pribadi dan jaga suara.

Meski cukup turistik, tempat ini menakjubkan, seperti mimpi, dan layak disinggahi. Sekitar sore hari, naik bus lanjutan ke Kanazawa, sekitar satu jam seperempat. Pesan kedua perjalanan bus ini jauh-jauh hari, satu dari Takayama ke Shirakawa-go dan satu lagi ke Kanazawa. Kursinya hanya bisa dipesan lebih dulu, dan tidak ada satu tiket pun yang mencakup persinggahan ini.

Dengan kopermu yang sudah dalam perjalanan ke Kyoto, ransel penuh oleh-olehmu adalah satu-satunya yang perlu dibawa.

Hari 7: Kanazawa

(Foto: PIXTA)
(Foto: PIXTA)

Kalau Takayama menuntut sepatu hiking, Kanazawa adalah tempat menggantinya dengan kimono sewaan dan berjalan menyusuri jalanan bersejarahnya. Bekas kota kastil ini menumpahkan kekayaannya ke taman, kerajinan, dan teh, dan itu terasa.

Hindari keramaian (dan tiket masuk) di Kenrokuen, salah satu dari tiga taman terbesar Jepang. Pengunjung pagi bisa masuk gratis, asalkan keluar 15 menit sebelum jam berbayar dimulai.
・1 April – 31 Agustus: 04.00 sampai 06.45
・1 September – 15 Oktober: 05.00 sampai 06.45
・16 Oktober – 31 Oktober: 05.00 sampai 07.45
・1 November – 28 Februari: 06.00 sampai 07.45
・1 Maret – 31 Maret: 05.00 sampai 06.45
Catatan: Selama jam gratis, hanya Gerbang Zuijinzaka dan Gerbang Renchi-mon yang dibuka.

Lalu jadi samurai selama sejam di Nagamachi sebelum makan sepuasnya di Pasar Omicho, dapur Kanazawa berusia 300 tahun yang penuh tumpukan makanan laut. Setelah itu, seberangi sungai ke Higashi Chaya, distrik geisha lama, untuk menikmati es krim soft-serve bermahkota selembar penuh emas lapis.

Akhiri hari di Museum Seni Kontemporer Abad ke-21, tempat karya Leandro Erlich, Swimming Pool, membuatmu bisa menengadah dari dasar kolam.
Catatan: Tutup setiap Senin dan tutup total dari Mei 2027 sampai Maret 2028 untuk renovasi.

Tempat Menginap di Kanazawa
Ramah di kantong
HATCHi Kanazawa: Hostel bergaya dengan dormitori dan kamar pribadi, dekat Pasar Omicho dan Kenrokuen.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Kelas menengah
Mitsui Garden Hotel Kanazawa: Kamar berbalut motif Kaga yang terinspirasi kimono, hanya tiga menit jalan kaki dari Pasar Omicho. Pemandian umum di lantai teratas mengundangmu berendam sambil memandang Taman Kastil Kanazawa.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Mewah
Kinjohro: Menyambut tamu sejak 1890, ryokan megah ini hanya selemparan batu dari Kastil Kanazawa dan terkenal dengan hidangan Kaga musiman.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda

Hari 8–11: Kyoto + Nara

Hari 8–11: Kyoto + Nara

Naik Shinkansen dari Kanazawa ke Tsuruga, pindah ke Thunderbird, dan kamu akan tiba di Kyoto sekitar dua jam kemudian, akhirnya bertemu lagi dengan kopermu!

Kyoto menyukai orang yang bangun pagi dan menghukum kita yang suka tidur sampai siang, jadi selama tiga hari ke depan, pura-puralah jadi orang pagi walau kamu bukan.

Higashiyama: Tiba di Kiyomizu-dera saat gerbang dibuka pukul 6 pagi, lalu turun ke Sannenzaka dan Ninenzaka sebelum toko suvenir buka dan rombongan wisatawan datang.

Arashiyama dan barat laut: Berjalan di hutan bambu saat matahari baru terbit agar tidak tersandung tripod dan menghindari tongkat selfie. Kalau waktunya cukup, mampirlah ke Otagi Nenbutsu-ji; itu kuil favoritku di Kyoto. Siang harinya, naik bus ke Kinkaku-ji, tempat Paviliun Emas berkilau di pantulan kolam.

Fushimi Inari: Kuil ini tidak pernah tutup, jadi simpan terowong torii merah jingganya untuk fajar atau senja.

Wisata sehari ke Nara: Kurang dari sejam naik kereta Kintetsu, Nara terkenal dengan rusa-rusa yang membungkuk, yang pasti akan menyerbumu demi biskuit. Beri hormat pada Buddha perunggu raksasa di Todai-ji, lalu menujulah ke selatan ke Naramachi, jalinan rumah saudagar berkisi-kisi yang kini jadi kafe dan toko kerajinan.

Tempat Menginap di Kyoto
Ramah di kantong
Sakura Cross Hotel Kyoto Kiyomizu: Kamar bersih dan nyaman yang muat hingga empat orang, sekitar 15 menit jalan kaki dari Kiyomizu-dera. Sempurna untuk menghindari keramaian pukul 6 pagi.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Kelas menengah
Ishibekoji Muan: Rumah berusia seabad di salah satu gang berlantai batu terindah di Gion, kini menjadi ryokan dengan tiga kamar.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Mewah
Aman Kyoto: Terletak di hutan maple berlumut yang teduh di tepi utara Kyoto, tak jauh dari Kinkaku-ji. Kamar bergaya ryokan dilengkapi bak rendam hinoki, dan onsen air panas alami di spa akan melenyapkan lelah setelah berkeliling kuil.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Rekomendasi lainnya
・Tempat Menginap di Kyoto: Area Terbaik dan 47 Hotel untuk Wisatawan
・10 Hotel dan Onsen Air Panas Rekomendasi di Kyoto
・10 Ryokan Ramah Keluarga di Kyoto untuk Liburan Tak Terlupakan

Hari 12–13: Osaka, Plus Himeji atau Koyasan

Hari 12–13: Osaka, Plus Himeji atau Koyasan

Begitu naik kereta 30 menit dari Kyoto ke Osaka, suasananya langsung berubah. Osaka, saudara Kyoto yang lebih ribut dan tergila-gila makanan, menepuk punggungmu lalu menyodorkan sepiring hidangan.

Jalani Hari 12 dengan semboyan lokal kuidaore, yang kira-kira berarti "makan sampai tumbang." Jajan sepanjang Dotonbori di bawah patung pelari Glico dan kepiting mekanik raksasa, sambil mampir untuk takoyaki, okonomiyaki, dan kushikatsu goreng. Tutup dengan segelas atau dua gelas minuman di salah satu dari sekian banyak bar. Setelah perjalanan yang seru-seruan sejauh ini, kamu pantas mendapatkannya.

Tempat Menginap di Osaka
Ramah di kantong
Cross Hotel Osaka: Kamar putih berkilau dengan sentuhan merah, dan patung pelari Glico hanya sejauh satu blok.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Kelas menengah
W Osaka di Minamisenba: Di balik fasad hitam megah karya Tadao Ando, tersembunyi interior neon yang cerah dan kamar-kamar nyaman.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Mewah
The Ritz-Carlton, Osaka: Kemewahan klasik di Umeda, dengan interior ala Eropa yang terasa jauh dari suasana pesta Dotonbori.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Rekomendasi lainnya
・Tempat Menginap di Osaka: Saran, Area Terbaik, dan 33 Hotel Pilihan untuk Wisatawan
・16 Hotel Apartemen Keluarga Terbaik di Osaka: Dapur dan Mesin Cuci (Namba, Umeda, USJ)
・Hotel Keren di Osaka: 9 Penginapan Unik dari Mewah hingga Hemat

Di Hari 13, pilih salah satu:

Himeji (wisata setengah hari):

Himeji (wisata setengah hari):

Sekitar satu jam ke barat dengan JR Special Rapid, Kastil Himeji adalah satu dari sedikit kastil asli Jepang yang masih berdiri, benteng putih berjuluk Bangau Putih. Siapkan 2.500 yen untuk tiket masuk, karena harga untuk non-penduduk naik lebih dari dua kali lipat pada 2026.

Koyasan (tukar penginapan semalam):

Koyasan (tukar penginapan semalam):

Tukar malam terakhirmu di Osaka dengan menginap di kuil (shukubo) atau guesthouse nyaman di Koyasan yang sakral, sekitar dua jam dari Namba dengan kereta, kereta gantung, dan bus. Kalau memilih shukubo, makan malamnya adalah shojin ryori, masakan nabati para biksu, jackpot langka bagi vegetarian. Setelah gelap, jalan-jalanlah di Okunoin, pemakaman berpenerangan lentera dengan batu nisan berselimut lumut di bawah pohon cedar yang menjulang, lalu bangun pagi untuk ikut doa pagi.

Kopermu tetap di belakang: simpan di loker di Nankai Namba atau kirim langsung ke Bandara Kansai.

Tempat Menginap di Koyasan
Ramah di kantong
Koyasan Guest House Kokuu: Sudah tiga kali menginap di sini, aku tanpa ragu merekomendasikan guesthouse milik Ryochi Takai. Lokasinya dekat dengan Okunoin, pas untuk jalan-jalan malam di bawah cahaya lentera, dan Ryochi adalah koki yang luar biasa, jadi pesan masakan lezatnya saat check-in.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Mewah
Eko-in: Di sisi Okunoin, penginapan kuil ini menyuguhkan upacara api pagi dan tur malam berbahasa Inggris di pemakaman.
・Pesan via Booking.com
・Pesan via Agoda
Rekomendasi lainnya
・Shukubo Koyasan: 5 Penginapan Kuil yang Terasa Seperti Memasuki Dunia Lain

Hari 14: Kepulangan

Dari Namba, Rapi:t membawamu ke Bandara Kansai dalam waktu secepat 34 menit. Turun dari Koyasan? Sisihkan sekitar tiga jam: kereta gantung, kereta ke Tengachaya, lalu jalur bandara.

Sebelum pergi, lakukan konbini run terakhir: egg sando, onigiri salmon, dan semua permen yang lupa kamu beli di Don Quijote.

Logistik

Pengiriman bagasi (takkyubin)

Pengiriman bagasi (takkyubin)

Layanan takkyubin Jepang adalah trik yang membuat itinerari sempurna ini berjalan tanpa repot. Pada malam Hari 4, serahkan koper besarmu ke resepsionis hotel di Tokyo, alamatkan ke hotelmu di Kyoto, dan pilih Hari 7 sebagai tanggal pengiriman. Biayanya sekitar 2.600 sampai 3.200 yen per koper besar. Sementara itu, kamu bisa melenggang melewati Takayama, Shirakawa-go, dan Kanazawa hanya dengan tas harian. Sebelum memesan, kirim email ke hotel di Kyoto untuk memastikan mereka mau menerima koper sebelum jadwal check-in-mu.

Rail pass

Pertimbangkan untuk melewatkan JR Pass nasional untuk itinerari ini. Total rute JR di sini jauh di bawah harga pass 7 hari, dan bus Nohi serta kereta Kintetsu dan Nankai memang tidak tercakup. Hokuriku Arch Pass juga tidak mencakup Takayama. Beli saja tiket per perjalanan sambil jalan.

Rekomendasi Kami
Tiket satuan kemungkinan pilihan terbaik untuk rute ini. Takayama-Hokuriku Area Tourist Pass sedikit lebih mahal, tetapi menggabungkan semua rute Alpen dalam satu tiket. Hokuriku Arch Pass cocok untuk perjalanan yang berbeda: lintasan Tokyo–Osaka lalu kembali ke Tokyo dalam tujuh hari. Perlu diingat, pass ini hanya untuk turis asing dengan status Temporary Visitor, dan tarif sering berubah, jadi periksa kembali sebelum memesan.

Opsi Perkiraan biaya Perlu diketahui Pesan Online
Tiket satuan ~29.000 yen Paling murah dan fleksibel. Hemat sekitar 1.200 yen dengan tiket diskon Kanazawa–Kyoto dari JR West (HOKURIKU One-way Ticket; beli sebelum tiba di Jepang). ▶ Rakuten Travel Experiences ↗︎
Takayama-Hokuriku Area Tourist Pass (19.800 yen, 5 hari) ~31.000 yen (termasuk tiket Tokyo–Nagoya) Mencakup kereta Hida, bus Shirakawa-go, dan perjalanan ke Kyoto. Reservasi kursi bus lewat telepon. ▶ Klook ↗︎
▶ KKday ↗︎
Hokuriku Arch Pass (35.000 yen, 7 hari) ~45.000 yen Tidak mencakup Takayama, jadi kamu harus naik bus kembali ke Kanazawa dari Alpen. ▶ Klook ↗︎
▶ KKday ↗︎
Tips singkat
  • Isi kartu IC Suica atau ICOCA ke ponselmu untuk tinggal tap di kereta, bus, dan konbini. Isi Visit Japan Web sebelum mendarat agar urusan imigrasi dan bea cukai lancar. Dan siapkan eSIM lebih awal supaya peta langsung berfungsi begitu kamu tiba.

Waktu Terbaik untuk Berkunjung

Alpen memerah oleh warna musim gugur beberapa minggu sebelum Kyoto menyusul, jadi akhir Oktober sampai November memungkinkanmu mengejar dedaunan sepanjang rute. Kalau tiba pada 9–10 Oktober, kamu bisa melihat kereta kencana festival musim gugur Takayama; 14–15 April membawa kembarannya di musim semi.

Musim dingin mengubah Shirakawa-go menjadi bola salju, tetapi iluminasinya yang terkenal hanya bisa dilihat dengan reservasi. Bus reguler berangkat sebelum acara dimulai, jadi kamu perlu tur yang sudah dipesan atau menginap di rumah pertanian.

Itinerari Alternatif

・10 hari: Tokyo 3 malam, Takayama 1, Kanazawa 1 (via Shirakawa-go), Kyoto 3 termasuk Nara, Osaka 1.
・7 hari: Tokyo 2, Takayama 1, lalu langsung ke Kyoto selama 3 malam.
・16 hari: Tambahkan dua malam di Hiroshima setelah Osaka.

Trio Emas Jepang dan Wisata Sampingan yang Memesona

Jadi, tak perlu lagi merasa bersalah karena melewatkan tempat-tempat unik di Jepang. Dengan perpaduan tempat klasik dan pedesaan ini, kamu mendapatkan neon dan atap jerami, kereta peluru dan pasar pagi, lalu pulang dengan tubuh cukup segar untuk mulai melamunkan perjalanan berikutnya ke Jepang.

Written by:
Himanshi Shah
Himanshi Shah

Himanshi adalah seorang penulis perjalanan berpengalaman, fotografer, dan desainer grafis. Setelah lulus dari Ecole Intuit Lab pada tahun 2015, ia mulai merancang untuk merek-merek global. Tertarik oleh pemandangan dan budaya Jepang, ia melakukan perjalanan secara ekstensif—dari jalan-jalan neon Tokyo hingga puncak Hokkaido. Dia juga pernah tinggal di Seto Inland Sea dan menjadi relawan di Fukushima. Melalui blognya, Nomadic Travelscapes, Himanshi mengungkap cerita yang berakar pada keaslian, bukan pengalaman yang dipimpin oleh influencer. Baru-baru ini, karyanya dipamerkan di Nox Gallery, Tokyo.

*This information is from the time of this article's publication.
*Prices and options mentioned are subject to change.
*Unless stated otherwise, all prices include tax.

Bagikan artikel ini.

Tur dan Aktivitas Populer

Cari