HOME Ueno Yanesen, Dulu dan Kini
Yanesen, Dulu dan Kini

Yanesen, Dulu dan Kini

Update: 18 Oktober 2016

Yanesen merupakan nama singkatan tiga daerah di Tokyo yang diambil dari huruf pertama masing-masing daerah tersebut, yaitu Yanaka yang dikenal sebagai daerah kuil Buddha, Nezu yang merupakan daerah para pengrajin, dan Sendagi yang tenang dan dicintai oleh para sastrawan dan seniman. Jejak sejarah yang tersisa masih banyak bertebaran di berbagai sudut Yanesen. Jika mencoba menelusuri jejak tersebut, Anda akan melihat suasana kota tempo dulu di daerah ini.

Asal-Usul Yanaka Disebut Daerah Kuil Buddha

Asal-Usul Yanaka Disebut Daerah Kuil Buddha

Dahulu, Yanaka merupakan sebuah desa pertanian yang terkenal sebagai penghasil jahe dan hingga kini dikenal dengan nama Yanaka Shoga. Pada tahun 1625, Kuil Kaneiji didirikan di daerah Ueno yang merupakan kimon (gerbang masuk setan yang membawa kesialan dalam kepercayaan Yin dan Yang) dari Kastel Edo. Seiring dengan pembangunan tersebut, banyak kuil Buddha didirikan di Yanaka yang berdekatan dengan Ueno. Kemudian pada tahun 1648~1651, atas kebijakan pemerintah militer bakufu, banyak kuil yang dipindah dari daerah Kanda dan sekitarnya ke Yanaka yang bersebelahan dengan daerah tersebut. Hal ini membuat jumlah kuil di Yanaka bertambah drastis. Saat ini pun terdapat lebih dari 70 kuil di Yanaka, sehingga disebut sebagai "daerah kuil Buddha". Sansakizaka yang merupakan jalan utama di Yanaka adalah jalan yang melambangkan bahwa Yanaka merupakan daerah kuil Buddha. Di sisi kanan dan kiri jalan tersebut, jumlah kuil masih lebih banyak daripada jumlah rumah warga.

  • Kaneiji
    • Address 1-14-11, Uenosakuragi, Taitou-ku, Tokyo, 110-0002
      View Map
    • Nearest Station Ueno Station (Hokkaido Shinkansen Line / Tohoku Shinkansen Line / Akita Shinkansen Line / Yamagata Shinkansen Line / Joetsu Shinkansen Line / Hokuriku Shinkansen Line / JR Keihin-Tohoku Line / JR Yamanote Line / JR Tohoku Main Line / JR Utsunomiya Line / JR Takasaki Line / JR Joban Line / Tokyo Metro Ginza Line / Tokyo Metro Hibiya Line)
      8 minutes on foot
    • Phone Number 03-3821-4440

Menghidari Serangan Udara Besar-besaran Tokyo dan Membangun Kembali

Menghidari Serangan Udara Besar-besaran Tokyo dan Membangun Kembali

Toko kue tradisional Jepang Yanaka-Okanoeisen adalah toko kue yang telah didirikan sejak tahun 1900 dan kini dikelola oleh generasi ke-4. Bangunan toko yang memiliki ciri khas Jepang tempo dulu telah menjadi simbol dalam rute jalan kaki menuju Ueno Park. Bangunan yang ada saat ini, didirikan oleh para pendahulu dari generasi ke-2 setelah perang berakhir. Pada akhir era Perang Dunia II, daerah Yanaka-cho tak henti-hentinya diterpa isu bakal dihantam serangan udara. Untuk meminimalkan kerusakan yang terjadi, daerah tersebut diputuskan untuk dijadikan sebagai tanah kosong. Toko Yanaka-Okanoeisen pun saat itu ditutup dan bangunannya dibongkar. Saat pembongkaran tersebut, papan nama toko dititipkan dan dijaga di kuil tetangganya. Setelah perang berakhir, para pendahulu dari generasi ke-2 segera mengumpulkan bahan kayu bangunan, membangun ulang toko, dan mulai berjualan kembali. Papan nama toko yang terpasang saat ini merupakan papan asli yang dijaga oleh pihak kuil saat akhir perang dunia.

Kue yang Dibuat dengan Metode Tradisional

Kue yang Dibuat dengan Metode Tradisional

Mame Daifuku produksi toko kue Yanaka-Okanoeisen yang hingga kini dicintai oleh para penduduk setempat adalah kue tradisional Jepang berupa kue mochi bertekstur kenyal dengan isi pasta kacang merah azuki yang tidak terlalu manis. Selain itu, kue Ukigusa yang sama terkenalnya dengan jahe Yanaka Shoga yang dahulu banyak ditanam di daerah ini adalah kue panggang yang terbuat dari pasta kacang merah azuki dengan balutan adonan kulit yang dicampur jahe. Campuran jahe tersebut memberikan sedikit rasa pedas pada kue terkenal ini. Kue mana pun dibuat dengan menjaga metode pembuatan dan tradisi dahulu kala, sehingga menawarkan rasa yang tidak berubah hingga kini.

  • Yanaka Okanoeisen
    谷中岡埜栄泉
    • Address 6-1-26, Yanaka, Taito-ku, Tokyo, 110-0001, Japan

Toko Kain Celup dan Pencucian Kain Chojiya yang Berdiri Hingga Kini di Bekas Kota Aizome-cho

Toko Kain Celup dan Pencucian Kain Chojiya yang Berdiri Hingga Kini di Bekas Kota Aizome-cho

Jika menuju Jalan Aizome-odori yang berada di kawasan permukiman tua di timur laut dari persimpangan Nezu-jinja Iriguchi Kosaten (Nezujinja) di Jalan Shinobazu-dori, Anda akan menemukan sebuah toko bernama Chojiya. Toko kerajinan kain celup yang sudah berdiri sejak tahun 1895 ini menjual saputangan, sarung buku, dan sarung untuk memasukkan kipas. Lokasi toko Chojiya berdiri disebut sebagai daerah Aizome-cho sampai tahun 1965. Dahulu terdapat Sungai Aizomegawa yang mengalir di jalan depan toko dan di sepanjang sisi sungai berdiri beberapa toko kain celup. Saat itu di sekitar tempat ini, toko-toko tersebut melakukan pekerjaan pencelupan kain dengan memanfaatkan Sungai Aizomegawa. Sekarang sungai tersebut telah ditimbun dan toko kain celup yang masih bertahan hanya tinggal Chojiya saja.

  • Chojiya
    染物・洗張 丁子屋
    • Address 2-32-8, Nezu, Bunkyo-ku, Tokyo, 113-0031, Japan

Jalan Perbatasan Distrik yang Meliuk-Liuk

Jalan Perbatasan Distrik yang Meliuk-Liuk

Setelah menuruni tanjakan Sansakizaka dan berjalan ke arah stasiun Sendagi, Anda akan menemukan sebuah jalan yang meliuk-liuk. Dari bentuknya yang seperti ular, jalan ini disebut Hebimichi (jalan ular) oleh masyarakat setempat. Saat ini, Hebimichi merupakan jalan yang menjadi perbatasan distrik antara Distrik Bunkyo-ku dan Taito-ku. Alasan mengapa bentuknya seperti ini adalah karena jalan tersebut berada di atas aliran Sungai Aizomegawa yang saat ini menjadi gorong-gorong. Sungai Aizomegawa memiliki drainase yang buruk, sehingga kerap meluap. Karena itu, pekerjaan pembuatan gorong-gorong dimulai dari tahun 1921. Saat ini, wujud sungai tersebut sudah tidak tersisa lagi. Sepertinya menarik bila berjalan meliuk-liuk sambil melihat jajaran rumah yang didirikan sedemikian rupa mengikuti Jalan Hebimichi. Menurut cerita orang, konon terdapat 15 belokan di Jalan Hebimichi.

  • Hebimichi
    へび道
    • Address 2, Yanaka, Taito-ku, Tokyo, 110-0001, Japan

Daerah Tenang yang Dicintai oleh Para Sastrawan dan Seniman

Daerah Tenang yang Dicintai oleh Para Sastrawan dan Seniman

Sendagi merupakan tempat kediaman Natsume Soseki dan Mori Ogai, sastrawan terkemuka yang mewakili Jepang, para seniman, dan orang terkenal lainnya. Di Sendagi, Anda bisa menelusuri jejak perjalanan hidup kedua sastrawan tersebut. Ada tugu Natsume Soseki Kyukyo Ato (Bekas Kediaman Natsume Soseki) yang dapat dijumpai setelah menaiki tanjakan Kaibozaka yang berada di samping Nippon Medical School Hospital dan berjalan ke arah selatan. Selain itu juga, ada Mori Ogai Memorial Museum yang memamerkan koleksi seperti naskah Mori Ogai yang menghabiskan separuh usianya di Sendagi. Di tengah kota Sendagi yang demikian, sebuah rumah kayu tua bernama Kyu Yasuda Kunio Tei Teien (The Former Kusuo Yasuda Residence) yang seolah menghentikan aliran waktu berdiri dengan tenang. Bangunan arsitektur tradisional Jepang dengan sentuhan modern ini merupakan bekas kediaman Yasuda Kunio, cucu dari pendiri Yasuda Zaibatsu (salah satu grup konglomerat besar di Jepang), yang didirikan oleh pengusaha Fujita Kosaburo pada tahun 1919. Anda dapat berkunjung dan melihat isi rumah tersebut pada hari Rabu dan Sabtu tiap minggunya.

Bangunan Arsitektur Kayu Tradisional Jepang

Bangunan Arsitektur Kayu Tradisional Jepang

Kyu Yasuda Kunio Tei Teien (The Former Kusuo Yasuda Residence) adalah tempat Anda dapat melihat bangunan arsitektur kayu tradisional Jepang pada masa sebelum perang. Saat menggeser pintu kacanya yang besar dan masuk ke dalamnya, Anda akan menemukan isi rumah yang apa adanya seperti saat dahulu. Anda dapat melihat sekilas budaya arsitektur zaman dahulu seperti ukiran detail pada tiang, telepon lama, lantai tatami, fusuma (pintu geser yang terdapat pada rumah bergaya tradisional Jepang), dan sebagainya. Selain itu, aneka pohon dan bunga empat musim bermekaran di halaman rumah yang luas, sehingga pemandangan yang dilihat dari jendela lantai dua begitu indah bagaikan lukisan.

*Informasi pada saat artikel dimuat.

Bagikan artikel ini.