Okayu dan Zosui

Okayu dan Zosui

Update: 22 Maret 2016

Okayu dan zosui, keduanya adalah sejenis masakan beras yaitu berupa beras yang dimasak (direbus) dengan air atau sup hingga lembut. Bagus untuk pencernaan, karena tidak menggunakan minyak sehingga tidak membebani perut.

Perbedaan Nasi, Okayu dan Zosui

Beras yang dimasak dengan menambahkan air lebih banyak dari saat memasak nasi biasanya disebut okayu. Zosui merujuk pada nasi yang telah dimasak dan direbus kembali dengan menambahkan rasa seperti sup kaldu.

Soul Food bagi Orang Jepang

Okayu mulai muncul dalam literatur kesusastraan kira-kira sejak abad ke-11. Di keluarga Jepang, okayu sering dibuat sebagai makanan bayi atau untuk orang yang sedang sakit.

Dasarnya adalah Shiroi-okayu yang Sederhana

Shirogayu (bubur putih) merupakan bentuk dasar okayu yang tidak diberikan rasa apa pun. Ada bermacam-macam tingkat kerasnya shirogayu, baik mulai dari shirogayu yang sedikit lebih lembut, sampai yang lembut hampir tidak menyisakan butiran-butiran nasi. Shirogayu sering dimakan bersama lauk dengan rasa yang kuat, salah satunya seperti umeboshi yaitu plum yang direndam dalam garam dan dikeringkan.

Shirogayu dan Lauk yang Cocok

Yang sering dimakan bersama shirogayu antara lain seperti shio-kombu (rumput laut yang diolah dan memiliki rasa asam dan asin) dan tsukemono. Tsukemono adalah sayuran yang diasamkan menggunakan garam, komenuka (bekatul) dan lainnya.

Nanakusa-gayu

Di Jepang, sejak zaman kuno, terdapat kebiasaan makan nanakusa-gayu pada tanggal 7 Januari, dengan harapan akan diberikan kesehatan selama satu tahun. Nanakusa-gayu mengacu pada beras yang dimasak bersama tujuh macam sayuran dan rerumputan meliputi daun seri, nazuna, gogyo, hakobera, hotokenoza, suzune (lobak Cina), dan suzushiro (lobak). Katanya nanakusa-gayu ini dimakan dengan harapan dapat mengistirahatkan perut yang lemah akibat makan dan minum yang berlebihan pada tahun baru.

Okayu dengan Kacang Azuki

Pada tanggal 15 Januari, di Jepang juga terdapat kebiasaan makan "azuki-gayu" yaitu beras dan kacang azuki (sejenis kacang merah) yang dimasak lembut. Sejak dahulu ada legenda yang mengatakan bahwa kacang azuki dianggap memiliki kekuatan sebagai jimat penangkal keburukan. Diharapkan, dengan memakan azuki-gayu dapat menjauhkan dari wabah penyakit dan kekuatan jahat. Bubur ini disebut juga sebagai mochi-gayu (bubur pengharapan) karena dimakan pada tanggal 15 Januari yang bertepatan dengan bulan purnama pada kalender lunar yang dianggap sebagai hari pengharapan.

Cha-gayu

Cha-gayu yang dimakan terutama di Nara terbuat dari beras yang dimasukkan ke dalam kuah yang dibuat dari teh hojicha (teh hijau yang dipanggang) lalu dimasak. Pada mulanya merupakan makanan biksu di kuil yang ada di daerah ini sejak lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Pada musim panas, cha-gayu biasa dimakan dalam keadaan dingin dan ada juga yang menambahkan kacang-kacangan, umbi, dan sayuran.

Cara Jepang Mengakhiri Masakan Nabe dengan Zosui

Banyak orang Jepang jika telah selesai menyantap masakan nabe, maka mereka akan membuat zosui dengan cara memasukkan nasi ke dalam kuah yang tersisa. Di restoran yang menyediakan masakan nabe, biasanya Anda dapat memesan tambahan paket sozui (paket nasi dan telur, potongan bawang daun dan lainnya).

*Informasi pada saat artikel dimuat.

Bagikan artikel ini.