Kuas dan Tinta: Keindahan Lukisan Jepang

Kuas dan Tinta: Keindahan Lukisan Jepang

Update: 8 Maret 2017

Di sepanjang jaman dibawah pengaruh budaya Cina dan Barat, lukisan Jepang telah membentuk gaya lukisan nya tersendiri. Gaya yang unik ini tetap setia pada ciri khas estetika-nya, namun di saat bersamaan juga turut beradaptasi dalam mencerminkan nilai-nilai dari setiap jamannya.

Sejarah Lukisan Jepang

Sejarah Lukisan Jepang

Terlepas dari teknik melukis itu sendiri, karakter Cina dan Buddhisme diperkenalkan dari China ke Jepang, karena interaksi antara kedua negara sejak jaman dulu. Konsep lukisan Jepang, seperti yang dikenal saat ini, diawali pada abad ke-19 untuk membedakan diri dari lukisan-lukisan Barat, ketika teknik-teknik baru dari Eropa masuk ke negara kepulauan ini.

Ciri-Ciri Khas Lukisan Jepang

Ciri-Ciri Khas Lukisan Jepang

Dibandingkan dengan lukisan Eropa yang memiliki kedalaman dan efek “stereoscopic”, lukisan Jepang memiliki kekurang dalam hal “shading” (teknik membuat bayangan), dan berpusat pada kerataan serta dilukis dengan garis khas. Bahan cat terbuat dari pigmen warna yang dicampur dengan lem, dan lukisan-lukisan biasanya digambar diatas kain sutra, kertas rami, atau kertas Jepang yang disebut “washi". Mereka sering dihiasi dengan hal-hal lain selain cat dan tinta, seperti daun emas.

Yamato-e: Gambar Jepang

Yamato-e: Gambar Jepang

“Yamato-e” menjelaskan gambar yang awalnya dilukis dengan tema Jepang yang berbeda dengan pengaruh dari Cina - “Yamato-e“ secara harfiah berarti "gambar Jepang". Biasanya, lukisan ini datang dalam bentuk gulungan yang menceritakan kisah tertentu. Akhirnya Yamato-e bergeser dari sekedar tema, menjadi sebuah gaya yang tidak hanya populer di kalangan bangsawan tetapi juga di antara kalangan umum di Jepang.

Suiboku-ga: Lukisan Tinta dan Air

Suiboku-ga: Lukisan Tinta dan Air

“Suiboku-ga” adalah jenis lukisan yang menampilkan pemandangan dan tokoh yang digambar dengan menggunakan gradasi tinta. Teknik ini memiliki asal-usul di Cina dan mulai berpengaruh ke Jepang sekitar akhir abad ke-13, di mana “Suiboku-ga” menjadi sangat populer. Jenis lukisan ini sangat terkait dengan agama Buddha dan banyak lukisan-lukisan ini digambar oleh para biarawan untuk mencerminkan ajaran-ajaran Buddhisme.

Ukiyo-e: Gambar Dunia Mengambang

Ukiyo-e: Gambar Dunia Mengambang

Banyak lukisan “ukiyo-e” menggambarkan pola kehidupan masyarakat umum pada saat itu. Ada dua jenis lukisan yang termasuk dalam istilah ini: “ukiyo-e” adalah cetakan dari balok-kayu yang di cat kemudian di-cap-kan keatas kertas, dan “nikuhitsu ukiyo-e” (ukiyo-e yang digambar tangan) digambar langsung di atas kain atau kertas. Pada periode Edo, lukisan seperti “yakusha-e” (cetakan aktor) menggambarkan aktor “kabuki”, dan “bijin-ga” (gambar wanita cantik), menunjukkan keindahan klasik wanita Jepang, juga turut berkembang. “Ukiyo-e” adalah budaya populer pada masanya.

Kiprah Lukisan Moderen

Kiprah Lukisan Moderen

Bahkan ketika menggunakan bahan dan teknik lukisan tradisional, lukisan modern Jepang tetap melalui sebuah transformasi. Contoh transformasi ini termasuk digunakannya isu-isu sosial sebagai subjek utamanya, atau dengan mencoba memadukan budaya yang berbeda dalam sebuah karya. Bagaimanapun juga, dalam seni kontemporer, sentuhan masa lalu selalu tetap dapat ditemukan.

*Informasi pada saat artikel dimuat.

Bagikan artikel ini.