Ningyo Joruri: Teater Boneka Tradisional

Ningyo Joruri: Teater Boneka Tradisional

Update: 6 Maret 2017

Ningyo joruri adalah seni pertunjukan tradisional Jepang yang menggunakan boneka, masing-masing dioperasikan oleh tiga orang, untuk melakukan berbagai drama yang berbeda dan cerita. Bentuk seni ini juga dikenal sebagai “bunraku” dan telah terdaftar sebagai Warisan Dunia Tak Berwujud UNESCO pada tahun 2003, yang mengakui tradisi panjang dan pentingnya budaya.

Sejarah Pedalangan

Sejarah Pedalangan

Akar dari ningyo joruri berawal dari tahun 1684 ketika teater bunraku yang pertama didirikan di Osaka oleh narator profesional bernama Takemoto Gidayu. Ningyo joruri sebenarnya adalah perpaduan dari dua seni pertunjukan yang telah ada jauh sebelumnya: boneka umum dan cerita naratif diiringi oleh musik sederhana. Sementara ningyo berarti boneka, sedangkan istilah joruri sedikit lebih rumit. Ini sebenarnya berakar dari kisah yang disebut Princess Joruri yang biasa diceritakan oleh para pendongeng. Seiring waktu, istilah joruri mulai mewakili seluruh genre narasi yang dinyanyikan.
Ningyo joruri sukses besar dan hanya dalam sekitar seratus tahun silam, ia telah menyebar dari satu pusat budaya utama, Kansai, ke pusat lainnya: ibukota Jepang, Edo. Berbagai sekolah baru didirikan untuk mengajarkan cara mementaskannya sendiri dan berbagai legenda dan cerita yang berbeda dipentaskan dipanggung-panggung utama.

Tiga Peran Diatas Panggung

Tiga Peran Diatas Panggung

Mari kita lihat bagaimana joruri ningyo dipentaskan. Tiga orang mengoperasikan masing-masing boneka. Mereka tertutup oleh pakaian hitam, akan tetapi dalam beberapa kasus sangat penting, mereka dapat menunjukkan wajah mereka dibeberapa adegan. Narator drama, disebut “tayu", cerdik dalam membawakan dunia cerita menjadi hidup dengan cara memainkan peran beberapa karakter dan juga menggambarkan pemandangannya sebagai pendongeng. Musik juga merupakan bagian penting dari ningyo joruri, biasanya dipentaskan oleh pemain shamisen.

Bagaimana Menikmati Ningyo Jurori

Bagaimana Menikmati Ningyo Jurori

Sebagai bentuk seni se-abad umurnya, bunraku tetap setia pada tradisi dan masih menceritakan legenda yang sama, cerita, dan dongeng dari periode Edo. Dengan demikian, memahami pertunjukannya bisa menjadi agak sulit karena banyak bahasa tua Jepang yang diucapkan selama bermain. Mayoritas teater biasanya menawarkan panduan tertulis dan kadang-kadang bahkan earphone yang menawarkan penjelasan tambahan pada kedua plot dan istilah-istilah yang mungkin tidak dipahami. tempat-tempat tertentu bahkan memiliki monitor yang menunjukkan subtitel selama pertunjukan, tapi ini, tentu saja, bervariasi berdasarkan lokasi.

Program Ningyo Joruri

Program Ningyo Joruri

Ningyo jururi dibagi menjadi “jidaimono”, yang merupakan cerita dari sebelum periode Edo, “sewamono”, yang menggambarkan kehidupan sehari-hari rakyat biasa, dan keigoto, yang lebih berfokus pada musik. Contoh yang paling umum dari jidaimono adalah Yoshitsune Senbonzakura, sementara Sonezaki Shinju adalah untuk sewamono, dan Gojo Ohashi untuk keigoto

Ningyo Joruri Diberbagai Area

Ningyo Joruri Diberbagai Area

Pertunjukan boneka tradisional dapat dinikmati dikebanyakan kota-kota besar di seluruh Jepang, terutama di Tokyo dan Osaka, tempat kelahiran ningyo joruri. Seni ini juga dipertunjukkan di aula dan teater didaerah pedesaan di luar kota-kota besar. Pada Theatre Nasional Bunraku yang terletak di Chuei, Osaka, Anda juga dapat menikmati “Noh" diantara seni pertunjukan tradisional lainnya.

*Informasi pada saat artikel dimuat.

Bagikan artikel ini.