Budaya Tradisional

Budaya Tradisional

Update: 20 Desember 2016

Berbagai bentuk budaya tradisional masih bertahan di Jepang. Jepang adalah negara dengan sejarah yang panjang. Lebih dari 400 tahun telah berlalu bahkan hanya dihitung mulai dari periode Edo, sebuah waktu di mana budaya itu berkembang. Tradisi dan adat istiadat dari budaya Edo hidup bahkan saat ini di Jepang modern.

Noh

Noh

Noh adalah bentuk teater topeng yang telah digelar sejak Abad Pertengahan. Sementara Kabuki mungkin lebih terkenal di luar negeri, bentuk seni Noh memiliki sejarah yang lebih panjang dan bisa dibilang sebuah tradisi yang lebih besar. Seni ini berkembang pada periode Heian dan menjadi populer di kalangan bangsawan. Panggung Noh memiliki latar belakang lukisan pohon pinus dan digelar dengan memakai topeng Noh. Bentuk seni ini ditetapkan sebagai aset budaya penting takbenda dari Jepang pada tahun 1957. Ada banyak sekolah Nogaku (Noh), seperti yang gaya Kanze dan gaya Hosho. Dikatakan bahwa ada 2000-3000 pertunjukan asli pada waktu itu yang hingga saat ini tetap ada.

Bunraku

Bunraku

"Bunraku", juga disebut "Ningyo-joruri" (boneka joruri), adalah bentuk teater boneka yang mewakili Jepang. Fitur yang membedakannya dari bentuk-bentuk teater boneka lainnya adalah bahwa setiap boneka dimainkan oleh tiga orang. Ada kepala dalang yang memainkan kepala dan tangan kanan, dalang kiri untuk tangan kiri, dan dalang kaki yang memainkan kedua kaki. Seiring dengan para dalang adalah "joruri" (bentuk musik tradisional Jepang) dan "shamisen" (alat musik Jepang yang menggunakan tiga senar) yang bersama-sama menciptakan seni perpaduan. Salah satu dramawan yang sangat disukai dari bunraku adalah "Chikamatsu Monzaemon", karena beberapa pagelaran bunraku-nya begitu populer sehingga kemudian digelar dalam bentuk kabuki.

Shodo

Shodo

Kaligrafi Jepang, disebut dengan shodo, adalah sebuah seni pertunjukan tradisional yang memaksakan aspek artistik karakter untuk menguasai keindahan tulisan tangan. Karakter-karakternya ditulis dengan merendam terlebih dahulu sikat yang terbuat dari bulu binatang dengan tinta cair yang disebut bokuju. Semuanya ditulis dengan perhatian besar pada setiap detail kecil dari masing-masing karakter, termasuk urutan stroke, bentuk dan ketebalan setiap baris, dengan konsentrasi penuh mengekspresikan emosi dan kepribadian secara bersamaan. Dinamis, namun halus, sehingga karakter yang diwakili menjadi sebuah karya seni.

Sado

Sado

Sado adalah sebuah ritual persiapan dan penyajian teh. Berawal dari waktu dimana budaya minum teh pertama kali dibawa dari China, kemudian budaya ini berkembang dengan unik kedalam bentuknya sekarang di Jepang. Ritual ini berkembang pada periode "Sengoku" (Negara yang Berperang) sebagai hobi populer di kalangan "bushi' (master seni bela diri). Pada "chakai" (pertemuan minum teh) di mana saat orang minum teh, banyak upaya dimasukkan dalam pemilihan dan pengaturan mangkuk teh, manisan, rangkaian bunga, dan gantungan scrolls (gulungan tulisan) didalam ruangan untuk menikmati musim ini.

Kodo (Upacara Dupa Tradisional)

Kodo (Upacara Dupa Tradisional)

Ini adalah sebuah seni pertunjukan tradisional untuk mengapresiasi harumnya dupa yang sedang terbakar. Kodo dikatakan telah dimulai sejak 500 tahun yang lalu, namun cara menikmati harumnya kayu wangi yang terbakar katanya telah dimulai sejauh 1500 tahun yang lalu.

Kado (Seni merangkai bunga di Jepang)

Kado (Seni merangkai bunga di Jepang)

Seni memotong dan merangkai bunga musiman, dedaunan dan cabang-cabangnya untuk mengagumi keindahannya. Berbeda dengan merangkai bunga yang menghasilkan sebuah karya yang padat dan dipenuhi bunga, dalam "kado" lebih disukai untuk membuat beberapa ruang dan mengekspresikan musim dengan sedikit bunga.

*Informasi pada saat artikel dimuat.

Bagikan artikel ini.