Cara Bersembahyang di Kuil Shinto dan Kuil Buddha

Cara Bersembahyang di Kuil Shinto dan Kuil Buddha

Update: 31 Agustus 2016

Terdapat perbedaan cara bersembahyang di kuil Shinto dan kuil Buddha. Mari pelajari cara bersembahyang berdasarkan tata cara yang ada.

Masuk ke Kuil Shinto

Kuil Shinto membedakan namanya berdasarkan keberadaan dewa yang disembah. Yang disembah adalah dewa-dewa pertempuran dan tenno (kaisar Jepang), dewa alam seperti gunung serta lainnya. Kuil Shinto memiliki semacam gerbang yang disebut dengan "torii". Karena ujungnya adalah wilayah para dewa, maka Anda harus menundukkan kepala terlebih dahulu sebelum melewati torii. Berjalanlah dipinggir "sando", yaitu jalan yang membentang dari torii. Bagian tengah sando adalah jalan para dewa.

Cara Menggunakan Temizuya

Sebelum pergi ke aula sembahyang, Anda harus membasuh tangan dan mulut dengan "temizuya" (fasilitas air mengalir yang berada di dekat pintu masuk). Anda harus membersihkan kotoran lahir batin terlebih dahulu di sini. 1. Ambillah air dengan hishaku (gayung) dengan tangan kanan, lalu cucilah tangan kiri Anda. 2. Lalu cuci tangan kanan, 3. Gantilah tangan kanan yang memegang gayung sekali lagi, karena telapak tangan kiri akan dituangkan air dan memasukkannya dalam mulut. 4. Cuci tangan kiri, dan akhiri dengan mengembalikan gayung yang basah ke tempat semula dalam posisi terbalik.

Cara Berziarah

Jika Anda sudah tiba di aula sembahyang, maka sembahyanglah. Kemudian, masukkan uang untuk menunjukkan rasa syukur kepada para dewa ke dalam "saisenbako" (kotak persembahan) yang telah disediakan. Jumlah uang bebas. Goyangkan tali yang menjulur dari atas ke bawah, dan bunyikanlah loncengnya. Setelah itu, terdapat tata cara "Ni Rei Ni Hakushu Ichi Rei" (dua hormat, dua tepuk tangan, satu hormat). 1. Turunkan kepala dari pinggang sedalam 90 derajat, lakukan sebanyak dua kali. 2. Tepuk tangan sebanyak 2 kali di depan dada. 3. Dengan kedua tangan yang masih bertangkup, sampaikanlah rasa terima kasih Anda kepada para dewa setelah memperkenalkan diri secara sederhana, lalu mintalah permohonan. 4. Terakhir, kembalilah membungkuk satu kali sedalam 90 derajat, dan selesai.

Omikuji (Kertas Ramalan) dan Omamori (Jimat)

Terdapat kesenangan lain saat bersembahyang di kuil Shinto. "Omikuji" adalah ramalan untuk mencari tahu kehendak dewa. Meskipun awalnya digunakan untuk tujuan politik, tetapi saat ini dinikmati sebagai undian ramalan keberuntungan diri sendiri. Kemudian, "Goshuin" yaitu bukti kunjungan menarik untuk dikoleksi, karena ada ciri khasnya di setiap kuil Shinto. Harganya yang murah berkisar 300 JPY hingga 500 JPY juga menjadi daya tarik tersendiri.

Yang Disembah di Kuil Buddha

Di kuil Buddha, para Buddha disembah. Awalnya, merupakan tempat latihan peribadatan para pendeta. Terdapat berbagai macam sosok Buddha, merasakan aura dan raut muka para Buddha adalah cara menikmati kuil Buddha yang unik.

Cara Bersembahyang di Kuil Buddha

Dalam perjalanan menuju gedung utama untuk bersembahyang kepada Buddha, karena ada fasilitas air mengalir yang sama seperti di kuil Shinto, bersihkanlah diri Anda dengan tata cara yang sama seperti kuil Shinto. Jika ada alat untuk membakar dupa, maka sentuhkanlah tubuh Anda dengan asap dupa untuk membersihkan tubuh. Di gedung utama, jika ada lonceng sama seperti di kuil Shinto, maka bunyikanlah, lalu berilah "osaisen" (uang persembahan). Setelah itu, tutuplah mata, dan tangkupkan kedua tangan, lalu memberi hormat dengan menundukkan kepala. Di kuil Buddha, hanya menangkupkan tangan tanpa tepuk tangan.

Ringkasan

Menyenangkan untuk mencoba menyentuh jiwa orang Jepang yang meliputi alam dan bangunan bersejarah yang dapat dirasakan, serta mempelajari tata cara bersembahyang dengan sungguh-sungguh.

*Informasi pada saat artikel dimuat.

Bagikan artikel ini.