Omairi: Menyembah di Kuil dan Wihara

Omairi: Menyembah di Kuil dan Wihara

Update: 10 April 2017

Sebuah kuil Shinto adalah tempat ibadah untuk menghormati ‘Kami', dewa Shinto, juga merupakan rumah bagi “Kami” yang diabadikan didalamnya. Nama yang paling umum dari kuil adalah 'jinja' 神社, yang secara harfiah diterjemahkan menjadi "tempat dari Kami”. Tergantung pada “Kami” dimana kuil itu dibangun, fitur elemen yang sangat khas dan ritual dilakukan di kuil itu sendiri. Ini dapat didedikasikan untuk dewa lokal yang diyakini berada di dalam dan melindungi daerah dimana kuil itu dibangun, atau ke salah satu “Kami” Shinto utama yang disembah tanpa batasan perlindungan lokal saja.

Sebuah kuil Buddha, di sisi lain, didedikasikan untuk mengabadikan dewa Buddha. Di masa lalu, para bhikkhu dilatih di beberapa wihara di seluruh Jepang, tetapi hari ini wihara diutamakan buat beribadah. Meskipun ada kesamaan tertentu seperti kuil, wihara memiliki aturan tersendiri untuk diikuti.

Kuil Shinto dan kuil Buddha mungkin memiliki banyak kesamaan tapi tetap merupakan fasilitas keagamaan yang berbeda. Sebuah kuil, misalnya, adalah rumah dari dewa yang diabadikan didalam, sementara sebuah wihara yang pertama dan utama merupakan rumah dimana biarawan hidup, bekerja, dan belajar. Karena filsafat dan cara berpikir yang berbeda dalam Shinto dan Buddhisme, cara ibadahnya pun juga berbeda. Mari kita lihat lebih dekat.

Memasuki Ranah Shinto dan Buddhisme

Memasuki Ranah Shinto dan Buddhisme

Kunjungan ke sebuah kuil atau wihara disebut “omairi". Sebuah rutinitas yang ketat tidak hanya untuk menenangkan hati seseorang, tetapi juga untuk menyenangkan “Kami” yang berada didalam. Langkah-langkah tertentu perlu diikuti ketika seseorang ingin mengunjungi kuil atau wihara dan berkomunikasi dengan Kami atau Buddha yang ada didalam dengan benar.
Ketika Anda mengunjungi sebuah kuil, Anda akan masuk melalui sebuah gerbang, yang disebut “torii”. Gerbang ini adalah sebuah tanda di mana ranah “kami” Shinto dimulai serta memisahkannya dari dunia sekuler. Ranah wihara Buddha dimasukki melalui sebuah gerbang yang disebut “Sanmon”. Dengan memasuki melalui salah satu gerbang tersebut, Anda melangkah ke tanah suci: mohon disadari hal ini. Siapkan pikiran dan hati Anda, tenangkan diri, dan hargailah segala sesuatu di sekitar Anda, baik itu yang terlihat atau pun tidak.

Pemurnian di Temizuya

Pemurnian di Temizuya

Setiap kuil dan candi memiliki sebuah wadah air, disebut 'temizuya' atau 'chōzuya,' di mana jamaah seharusnya menyucikan diri, secara harfiah dan kias. Pemurnian ini mengikuti sebuah aturan yang tegas:
1 - Pertama, mengambil sendok kayu di tangan kanan Anda, mengisinya dengan air, dan bersihkan tangan kiri Anda.
2 - Ambil sendok di tangan kiri dan bersihkan tangan kanan secara bergantian.
3 - Kemudian, tuangkan air ke telapak tangan kiri Anda, untuk kemudian membilas mulut Anda. Air tidak untuk diminum, sebaliknya, untuk diludahkan lagi.
4 - Bersihkan tangan kiri Anda sekali lagi. Kemudian, angkat sendok kayu tadi dalam posisi vertikal untuk membersihkannya dengan air yang tersisa sebelum meletakkan kembali.

Melaksanakan Omiri

Melaksanakan Omiri

Berdoa di kuil:
1 - Pertama, lemparkan koin, biasanya 100 atau 50 yen dalam kotak persembahan.
2 - Jika terdapat sebuah bel atau gong, bunyikan dengan kuat selama beberapa kali, karena hal ini membantu mendapatkan perhatian dari “kami”. Kemudian membungkuklah dengan rendah pada sudut 90 derajat dua kali. Setelah membungkuk, tepukkan tangan dua kali. Jika Anda ingin berdoa, lakukanlah setelah bertepuk tangan - dan berdoalah dalam hati. “Kami” tidak memerlukan kata-kata yang diucapkan.
3 - Setelah Anda selesai, membungkuk hormatlah sekali lagi.

Berdoa di sebuah wihara:
1 - Lemparkan koin kedalam kotak persembahan.
2 - Jika ada gong, bunyikan dengan kuat selama beberapa kali. Selain bertepuk tangan, cukup tempelkan kedua telapak tangan Anda di depan dada dan berdoalah dalam hati.
3 - Membungkuk hormatlah sekali lagi setelah Anda selesai berdoa.

Doa? Sebuah harapan? Sebuah Sumpah?

Walaupun istilah "doa" dan "berdoa" sering digunakan untuk menjelaskan cara beribadah di kuil maupun wihara, cara berdoa sebenarnya cukup berbeda tergantung apakah Anda berada di sebuah wihara atau kuil.
Di kuil, orang biasanya berharap untuk kebahagiaan selama hidup mereka atau bahkan situasi tertentu, seperti ujian atau wawancara kerja. Berbeda dengan berdoa di sebuah wihara, orang berdoa untuk masuk surga. Selain itu, ibadah di kuil umumnya terkait dengan proses pemurnian diri dari dosa, sedangkan doa di wihara seringkali merupakan sebuah refleksi diri dan sumpah untuk memperbaikinya dari sekarang.

Omikuji dan Omamori: Jimat Keberuntungan dari Dunia Lain

Omikuji dan Omamori: Jimat Keberuntungan dari Dunia Lain

Jimat keberuntungan yang paling populer di keyakinan Shinto tidak diragukan lagi adalah “Omamori”. Didedikasikan untuk berbagai keinginan yang berbeda dan peristiwa, seperti, penelitian, kesehatan atau cinta, sebuah “Omamori” pada dasarnya adalah sebuah jimat pelindung yang tertutup didalam sebuah tas kain kecil berwarna-warni. Biasanya, jimat keberuntungan ini selalu dibawa setiap saat, sebagai gantungan pemanis ponsel atau tas, misalnya, atau ditempelkan ke lokasi tertentu - seperti di dalam mobil atau di meja.
Hal lain yang harus dibeli di tempat suci adalah “omikuji". Ini adalah strip kertas kecil yang diambil dari kotak kayu sebagai bentuk sumbangan kecil ke wihara atau kuil, yang berfungsi sebagai ramalan keberuntungan. Berkat mengenai hal-hal seperti kesehatan, bisnis, pernikahan, dan sebagainya ditulis di atas kertas ini memprediksikan nasib yang berbeda-beda - tapi hati-hati, Anda juga bisa mendapatkan berita buruk! tulisan pada kertas yang membawa berita buruk biasanya diikat pada pohon atau dinding yang disediakan oleh kuil atau wihara. Dengan demikian, jamaah menempatkan nasib di tangan “Kami” atau Buddha sehingga kutukan itu dapat dihindari.

Kesimpulan

Sementara sebagian besar dari penduduk Jepang ahkir-ahkir ini tidak menganggap diri mereka terlalu religius, adat dan ritual Shinto dan Buddha masih memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Jepang, kunjungan ke kuil dan wihara mengarahkan jalan kehidupan mereka. Merasakan ritual persembahan dapat menawarkan sebuah pengalaman sekilas yang otentik dan unik, tidak hanya untuk mendalami filsafat Jepang tua dan tradisinya, tetapi juga mengenai masyarakat modern abad ke-21.

*Informasi pada saat artikel dimuat.

Bagikan artikel ini.